Ida Minarni, Ibu Guru Yang Cakap Mendongeng Ciptakan Karakter Dari Kaus Kaki Teman Kantor

Ida Minarni, Ibu Guru Yang Cakap Mendongeng Ciptakan Karakter Dari Kaus Kaki Teman Kantor

Metode bercerita kerap lebih mengena bila diterapkan dalam pendidikan anakanak. Dengan cara mendongeng, Ida menyampaikan materimateri pelajaran dengan lebih mudah.

SEANDAINYA nasihat dan materi pelajaran adalah sebuah jalan, hal itu tidak selalu jalan yang lurus dengan rute yang sama. Ada banyak cara untuk menempuhnya. Nah, mendongeng atau bercerita pendek jadi cara andalan Ida Minarni, wali kelas IV SD Margie, selama lebih dari 10 tahun mengajar.

Mengapa dengan cara mendongeng? Tentu agar inti pelajaran dan nasihat terserap dengan baik. Melekat dalam benak murid-murid yang dibimbing dan tidak mudah dilupakan. Banyak orang yang lebih ingat dengan cerita Malin Kundang dan kisahnya daripada sekadar nasihat untuk patuh pada orang tua.

Ibarat sutradara, Ida harus terus menyajikan cerita-cerita baru yang berhubungan dengan materi sekolah agar anak-anak tidak bosan. Alur cerita dan karakternya bisa disiapkan lebih dulu. Namun, Ida tidak jarang mendongeng secara spontan. ’’Saya lebih sering mendongeng spontan. Apa yang ada di kepala saya itulah yang saya ceritakan,’’ kata perempuan 43 tahun tersebut.

Dia menggunakan alat-alat daur ulang dalam bercerita. Alat itu dijadikan media untuk membentuk karakter hingga properti guna menceritakan latar belakang cerita. Mulai kertas usang, gabus, sampai kaus kaki.

Salah satunya karakter Si Buto dan Si Putih yang digunakan saat mendongeng kemarin pagi (20/4). Si Buto dibuat dari kaus kaki usang merah. Kaus kaki itu diminta dari temannya sesama guru. Berhias kertas usang, kaus kaki tersebut berubah menjadi makhluk yang memiliki mata dan mulut.

Begitu pula dengan tokoh Si Putih. Kaus kaki usang tersebut diubah menjadi makhluk yang memiliki wajah dengan karakter protagonis. Si Buto dan Si Putih berkisah mengenai hubungan pertemanan. Buto kerap membully Putih dan marah tidak keruan.

Ceritanya sederhana saja. Namun, karena pembawaan Ida yang humoris dan memiliki kecakapan mengubah suara, anak-anak pun tergelak. Mereka sampai terpingkalpingkal ketika mendengar cerita Ida. Di sisi lain, tepatnya di bagian cerita yang serius, anak-anak sesekali mengernyitkan dahi.

Ida merupakan alumnus PGRI Adi Buana Surabaya jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Dia masuk ke yayasan Margie Surabaya pada 1995. Teori sastra dan pedagogi membuatnya memilih mengajar dengan cara mendongeng. ’’Dengan mendongeng, nilai pelajaran anakanak bisa meningkat lebih baik, terutama pada pelajaran ilmu sosial,’’ papar guru yang berprestasi di lomba story telling itu.

TERPINGKAL: Murid-murid asyik mendengarkan Ida mendongeng. Salah seorang murid tertawa lepas saat Ida menceritakan bagian yang lucu.

 

Berita ini juga dapat dilihat di web Jawa Pos :
https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20180421/282359745308831

 

Update terakhir: 22 April 2018

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *